[FF YOONWON ONESHOT] I Did Wrong


o TITLE : I DID WRONG
o Author : Nindy_SonELF (nindysonelff.wordpress.com)
o GENRE : FAMILY, SAD
o CAST :
 IM YOONA (YOONA SNSD)
 CHOI SIWON (SIWON SUJU)

♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥

^_YOONA’s POV_^
“Oppa, apa kau bisa menjemputku sekarang? Aku tidak bisa pulang karena hujan deras. Aku tidak membawa payung,” aku menghubungi Siwon oppa lewat telepon.
“Kau di mana?” tanya Siwon oppa diseberang sana.
“Aku di depan sekolah,” jawabku.
“Tunggu di sana. Aku akan segera menjemputmu,” kata Siwon oppa lalu menutup telepon.
Beberapa menit kemudian aku melihat mobil Siwon oppa dari kejauhan. Dan mobil itu berhenti di depanku yang berteduh di halte depan sekolah. Aku segera masuk ke dalam mobilnya karena aku sudah menggigil kedinginan. Siwon oppa menyalakan penghangat lalu manjalankan mobilnya.
“Kau sudah lama menunggu?” tanya Siwon oppa tanpa mengalihkan pandangan dari jalanan.
“Tidak. Baru sebentar,” jawabku.
“Aku akan langsung mengantarmu ke rumah. Eomma sudah menunggu. Setelah itu aku akan kembali ke kampus,” kata Siwon oppa. Aku mengangguk mengiyakan.

Siwon oppa menghentikan mobilnya di depan pagar rumah.
“Oppa tidak makan dulu?” tanyaku sebelum turun dari mobil.
“Aku bisa makan di luar. Aku harus pergi sekarang,” kata Siwon oppa.
“Baiklah. Jangan pulang terlalu malam. Hati-hati di jalan,” ucapku lalu membuka pintu mobil dan keluar. Aku cepat-cepat berlari menuju rumah karena hujan masih deras. Aku menekan bel rumah dan eomma membukakan pintu.
“Chagi… kau basah kuyup. Kau pasti kedinginan. Ayo masuk, eomma sudah menyiapkan makanan yang enak untukmu. Lebih baik kau mandi dulu. Eomma akan menyiapkan air hangat,” kata eomma begitu melihatku datang. Eomma menuntunku masuk ke dalam rumah. Tapi sebelum masuk aku menoleh ke belakang. Mobil Siwon oppa masih berada di luar. Aku melihat Siwon oppa memandangku dan eomma dari kejauhan. Ketika tahu kalau aku melihatnya ia segera melajukan mobilnya. Aku mengerti kenapa dia seperti itu.

♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥

Setahun yang lalu orangtuaku meninggal karena kecelakaan. Sebelum meninggal appaku menitipkanku pada teman dekatnya, yang tak lain adalah orangtua Siwon oppa. Siwon oppa adalah anak tunggal yang sangat disayangi orangtuanya. Setelah aku diangkat menjadi anak di keluarga Choi, Siwon oppa merasa kehilangan kasih sayang dari orangtuanya. Karena orangtuanya lebih perhatian padaku daripada padanya. Dan karena itulah Siwon oppa menjadi cuek. Padahal sebelumnya dia adalah anak yang penurut. Dan sebelum menjadi saudara dia sangat baik dan menganggapku sebagai adiknya sendiri. Tapi sekarang semuanya berubah. Malah kelihatannya dia seperti membenciku. Apalagi eommanya sangat menyanyangiku seperti anaknya sendiri.
Siwon oppa 4 tahun lebih tua dariku. Aku sekarang kelas 1 SMA, sedangkan Siwon oppa sudah kuliah. Siwon oppa adalah anak yang mandiri, dewasa, dan tidak manja walaupun dia anak tunggal yang berasal dari keluarga kaya raya. Aku bahkan sangat mengaguminya, karena dia sangat tampan dan pintar. Sejujurnya aku menyimpan perasaan padanya. Perasaan yang lebih dari sekedar teman, lebih dari sekedar saudara. Perasaan aneh yang tidak seharusnya kurasakan saat bersamanya. Karena perasaan ini tidak wajar.
Aku menyukainya dari pertama aku mengenalnya, sebelum menjadi adiknya. Sebenarnya aku tidak ingin jadi adiknya. Tapi aku tidak bisa menolak karena itu amanat dari almarhum appa. Seandainya aku tidak menjadi adiknya, aku pasti akan mengatakan. Aku akan mengatakan bahwa aku mencintainya. Walaupun ia tidak mencintaiku. Tapi sekarang semua sudah terlambat. Aku akan selamanya memendam perasaan ini. Walau hatiku sakit ketika ia menganggapku sebagai saingan untuk mendapatkan hati eomma. Bahkan jika aku bisa memilih, aku akan mundur agar Siwon oppa bahagia dan memperlakukanku sebelum kita menjadi saudara.

♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥

Hari ini adalah hari ulang tahunku. Appa dan eomma akan mengadakan pesta kecil-kecilan nanti malam. Hanya kami berempat. Aku, Siwon oppa, appa, dan eomma. Pagi ini kami sarapan bersama.
“Chagi, ini eomma masakkan makanan spesial untuk kamu. Kamu mau yang ini? Eomma ambilkan ya,” kata eomma menawarkan.
“Ini kan hari ulang tahunmu Yoona-ah, mau jalan-jalan ke mana? Appa akan mengantarmu ke mana saja yang kamu mau,” kali ini appa yang bicara. Aku hanya tersenyum menanggapi appa. Tiba-tiba Siwon oppa berdiri.
“Aku berangkat dulu. Ada ujian,” kata Siwon oppa lalu meninggalkan kami bertiga.
“Siwon-ah, pulanglah lebih cepat. Hari ini ulang tahun adikmu,” teriak eomma. Tapi Siwon oppa tak menjawab. Aku menghela nafas. Eomma dan appa tak tahu keadaan antara aku dan Siwon oppa. Merekas tak tahu masalah kami. Sebenarnya aku ingin jujur pada mereka agar tidak memperlakukan aku seperti ini di depan Siwon oppa. Tapi aku tak punya hak melakukan ini, karena aku hanyalah anak angkat, walaupun mereka menganggapku layaknya anak mereka sendiri.

♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥

Hari ini aku bertekad. Aku sedah bisa memendam perasaan ini lebih lama lagi. Satu tahun adalah waktu yang cukup lama dan menyiksa. Malam nanti aku akan mengatakan yang sejujurnya pada Siwon oppa. Aku telah menulis surat dan menaruhnya di dalam mobilnya. Kalau dia pulang nanti dia sudah tahu semuanya, jadi aku tinggal menjelaskan.

^_END OF YOONA’s POV_^

♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥

^_SIWON’s POV_^

Aku masuk ke dalam mobil dan membanting pintu sampai tertutup. Aku benar-benar sudah tak bisa menahan amarahku ketika melihat mereka bertiga seperti keluarga bahagia. Bahkan mereka melupakanku. Anak kandung mereka sendiri. Sebelum dia datang semuanya tidak seperti ini. Aku tidak akan berubah seperti ini. Aku tak akan bersikap seperti ini jika mereka tak memperlakukan Yoona seperti itu. Sebelumnya aku telah menganggapnya seperti adikku sendiri. Tapi ketika oramgtuaku mengangkatnya menjadi anak mereka, mereka seakan lebih menyayanginya daripada aku. Jujur aku cemburu padanya karena eomma sangat perhatian padanya.
Aku menyandarkan tubuhku di jok mobil, menarik nafas dalam-dalam, lalu menghembuskannya sekuat mungkin. Aku sudah tidak tahan dengan semua ini. Lebih baik aku pergi. Aku ingin kuliah di Australia. Sebenarnya ini impianku sejak dulu, tapi aku belum bisa mewujudannya kaena appa melarangnya. Alasannya adalah aku anak mereka satu-satunya. Mereka tak ingin aku jauh dari mereka. Tapi sekarang aku kan sudah besar. Lagian sudah ada anak itu di rumah yang akan menggantikanku. Aku sudah tidak berguna lagi bagi mereka. Jadi ini saatnya aku untuk pergi. Kalau begitu aku harus secepatnya memesan tiket, agar aku bisa berangkat lebih cepat.
Aku menjalankan mobilku. Tapi sebelum menyalakan mesin, aku menyingkirkan secarik kertas yang menghalangi spidometer, lalu membuangnya.
Kalian tidak usah khawatir, aku akan segera pergi dan tak akan menganggu hidup kalian lagi, agar kalian bertiga bisa bahagia tanpaku.

^_END OF SIWON’s POV_^

♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥

^_YOONA’s POV_^

Malam harinya…
Semuanya sudah berkumpul di rumah. Eomma baru saja selesai menyiapkan hidangan. Aku melayangkan pandanganku pada Siwon oppa dengan perasaan canggung. Siwon oppa menyadari aku sedang memperhatikannya. Dia memandangku dengan tatapan dingin seperti biasa. Aku bertanya-tanya dalam hati apakah dia sudah membaca suratku? Kenapa dia seperti itu? Sepertinya ada yang aneh.
“Saengil chukkae anak eomma yang paling cantilk,” seru eomma seraya menyerahkan kado lalu mencium pipiku.
“Selamat ulang tahun ya sayang. Semoga panjang umur dan diberi kesehatan. Pasti orangtuamu di sana bahagia melihatmu,” ucap appa. Aku memeluknya.
“Selamat ualng tahun,” tanpa kuduga Siwon oppa mengulurkan tangannya. Aku menatapnya cukup lama, lalu membalas uluran tangannya.
“Gomawo oppa,” aku tersenyum padanya. Dia membalas dengan senyuman tipis.
“Ada yang ingin kukatakan pada kalian,” Siwon oppa angkat bicara.
“Aku sudah memutuskan untuk melanjutkan kuliah di Australia. Besok aku akan berangkat. Keputusanku sudah bulat,” ucap Siwon oppa yang membuatku tersentak, begitu juga dengan eomma dan appa yang tak kalah kagetnya.
“Kenapa kau tak ijin dulu pada kami? Kenapa kau mengambil keputusan semaumu sendiri?” tiba-tiba appa marah.
“Bukankah kalian sudah tidak membutuhkanku? Sudah ada penggantiku kan? Kalian tidak akan kesepian tanpaku. Kuliah di Australia adalah cita-citaku sejak dulu. Kenapa kalian melarangku dan tidak mendukungku? Apa kalian tidak ingin aku bahagia? Aku akan tetap pergi,” kata Siwon oppa lalu beranjak dari tempatnya.
“Siwon!” teriak appa.
“Sudahlah, pa,” eomma menenangkan appa.
“Chagi, sebaiknya kita ijinkan saja Siwon memilih jalanny sendiri. Sampai kapan kita akan melarangnya terus? Dia berhak bahagia. Dia sudah besar. Kini saatnya dia untuk hidup mandiri,” kata eomma membujuk appa.
“Akan kupertimbangkan,” kata appa akhirnya.
“Jangan!” seruku tiba-tiba. Appa dan eomma menatapku heran.
“Emm… ma.. maksudku…” aku bingung harus berkata apa.
“Aku mau ke toilet,” aku segera meninggalkan mereka dan mencari Siwon oppa. Ternyata dia ada di teras depan rumah.
“Oppa,” panggilku lalu menghampirinya dan duduk di sebelahnya.
“Apa oppa benar-benar mau pergi?” tanyaku.
“Iya, kau senang kan,” Siwon oppa tersenyum sinis.
“Maksud oppa?” aku benar-benar tak mengerti dengan apa yang ia katakan.
“Sudahlah. Mulai sekarang jangan ganggu hidupku lagi. Dan sebaiknya kau masuk dan berkumpul bersama mereka. Aku sedang ingin sendiri,” kata Siwon oppa dingin.
“Oppa, apa kau sudah menerima suratku?” aku memberanikan diri untuk menanyakan ini.
“Surat?” tanyanya bingung.
“Surat yang kuletakkan di mobil oppa tadi pagi,” kataku. Siwon oppa kelihatan sedang mengingat-ingat.
“Itu suratmu?Aku sudah membuangnya,”
“Mwo? Apa oppa sudah membacanya?”
“Tidak. Aku pikir itu hanya kertas biasa. Makanya langsung kubuang,” kata Siwon oppa datar.
“Apa oppa benar-benar membenciku? Jadi oppa tidak tahu isinya? Oppa tidak tahu isi hatiku?” tanyaku dengan mata berkaca-kaca.
“Maksudmu? Aku tidak mengerti,” Siwon oppa kini menatapku.
“Oppa memang tidak pernah mengerti perasaanku. Apa oppa tahu betapa sedihnya aku ketika oppa memperlakukanku seperti ini? Menganggapku seperti musuh. Hatiku sakit jika oppa seperti ini. Oppa menganggapku apa? Apa tidak bisa menganggapku seperti saudara sendiri? Apa oppa menganggapku sebagai saingan? Atau menurut oppa aku sengaja merebut perhatian eomma dan appa dari oppa? Jika iya, oppa salah besar. Aku tidak pernah punya pikiran seperti itu. Jika oppa tidak suka padaku, aku akan pergi. Lebih baik aku saja yang pergi. Oppa tetap di sini bersama eomma dan appa. Biar kalian bisa seperti dahulu lagi sebelum ada aku. Jika itu membuat oppa senang, aku akan mengalah. Oppa tidak perlu pergi ke luar negeri untuk menghindariku,” kataku dengan nada penuh emosi meluapkan segalanya yang mengganjal di hatiku. Siwon oppa diam seribu bahasa menatapku. Mungkin ia masih mencerna kata-kataku.
“Oppa jangan khawatir. Mulai besok, oppa tidak akan melihatku di sini lagi. Nikmatilah waktu bersama appa dan eomma. Jagalah mereka berdua. Dan aku tidak akan muncul lagi di kehidupan oppa,” lanjutku, menahan tangis, memaksakan diri untuk tersenyum dibalik kepahitan ini.
“Yoona, apa yang kau katakan? Kenapa kau punya pikiran seperti itu? Katakan, apa salahku? Aku tidak…”
“Salahmu adalah… kenapa kau membenciku? Dan… karena kau tidak tahu bahwa AKU MENCINTAIMU!” kataku akhirnya, dan langsung meninggalkannya yang sangat terkejut dengan perkataanku.
“YOONA!!” aku terus berlari dengan air mata yang mengucur, meskipun aku mendengar Siwon oppa memanggilku dari belakang.

^_END OF YOONA’s POV_^

♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥

^_SIWON’s POV_^

Aku sangat terkejut dengan apa yang barusan Yoona katakan. Dia bilang dia mencintaiku? Hah… Apa yang diketahui tentang cinta oleh anak kecil seperti dia? tapi kelihatannya dia serius. Mendengar kata-katanya dari awal sampai akhir, membuatku sadar. Mataku seolah baru terbuka. Ternyata selama ini dia begitu memperhatikan sikapku. Aku tak percaya dia berkata seperti itu. Baru pertama kali ini aku melihatnya semarah itu dan menangis. Selama ini aku tak pernah melihatnya marah dan menangis. Dia hampir tidak pernah menangis. Dia adalah anak yang tegar. Dia hanya menangis ketika mengingat orangtuanya.
DIA MENCINTAIKU. Itu kata yang paling aku ingat diantara kata-kata yan dia ucapkan. Apa dia bersungguh-sungguh? Jika iya, mengapa? Mengapa dia mencintaiku? Mengapa harus aku? Padahal masih banyak lelaki di luar sana yang lebih baik dariku dan pantas untuknya. Kenapa memilih aku yang tidak pernah bersikap baik padanya. Belum lagi, kita adalah saudara, walaupun bukan saudara kandung. Dan ditambah lagi perbedaan usia kita.
Aku akui dia memang cantik, bahkan sangat cantik dan manis. Tentu saja mungkin banyak namja yang menyukainya. Dia bahkan mendekati sempurna. Tapi aku tidak bisa menyukainya karena alasan yang telah kusebutkan tadi. Dan memang aku tidak ada perasaan apa-apa padanya. Dia tidak lebih dari seorang adik bagiku. Aku tidak menyangka ternyata selama ini dia punya perasaan padaku.

@@@@@

Aku bergegas ke kamarnya, tapi terkunci.
“Yoona-ah, keluarlah. Aku ingin bicara. Dengarkan aku dulu,” kataku sambil mengetuk pintu. Tapi tidak ada jawwaban. Mungkin saat ini dia benar-benar sedih dan kecewa.
“Yoona, tolong buka pintu. Apa kau bisa mendengarku?”
Hufft… Mungkin sekarang dia butuh waktu untuk sendiri. Aku akan membiarkan dia menenangkan diri. Besok aku akan mencoba bicara padanya. Aku akan minta maaf padanya, karena semua ini memang salahku.
“Baiklah, aku akan pergi. Tapi besok kita harus bicara. Selamat malam. Dan selamat ulang tahun,” ucapku lalu meninggalkan kamarnya.

♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥

Keesokan harinya…
Pagi-pagi sekali aku bangun dan langsung bergegas menemui Yoona. Aku harap dia belum pergi. Aku harus mencegahnya. Ya Tuhan, aku benar-benar merasa bersalah.
“Yoona-ah! Apa kau ada di dalam?” aku mengetuk pintu kamarnya. Tidak ada jawaban dari dalam. Aku mencoba menarik kenop pintunya. Tidak terkunci. Aku masuk ke dalam dan mencarinya, tapi hasilnya nihil. Yoona tidak ada di sini. Dan kamar itu bersih. Tidak ada satupun barangnya yang tersisa. Apa jangan-jangan…..?
“YOONA…!!!”
Aku langsung mencarinya ke seluruh penjuru ruangan di rumah ini. Aku harus terus mencari. Jika dia pergi, dia akan pergi ke mana? Dia tidak punya keluarga di sini. Aku mulai khawatir. Aku segera menyambar kunci mobil dan melajukan mobilku secepat mungkin.
Di tengah perjalanan, aku melihat gadis yang mirip seperti Yoona. Aku menghampirinya, mengikutinya dari belakang. Dia menuju ke stasiun kereta. Ketika dia akan memasuki kereta…
“YOONA!” seruku. Dia menoleh. Benar, ternyata itu Yoona. Aku menghampirinya, mencegahnya pergi.
“Oppa?” katanya pelan.
“Ayo, ikut aku,” aku menarik tangannya. Dan aku membawanya ke suatu tempat.

♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥

“Apa yang kau lakukan? Apa dengan pergi dari rumah akan menyelesaikan masalah? Apa kau tidak memikirkan appa dan eomma? Apa kau hanya memikirkan perasaanmu sendiri? Mari kita bicarakan dengan kepala dingin,” ucapku.
“Apa oppa peduli padaku? Mengapa sekarang oppa melarangku pergi? Bukankah oppa lebih senang jika tidak ada aku di rumah? Oppa tidak akan punya saingan,” lontarnya.
“Yoona, mianhae..” ucapku. Yoona menangis tersedu.
“Maafkan aku atas segala sikapku selama ini. Aku sadar bahwa semua ini salahku. Jujur, memang aku cemburu melihat kedekatanmu dengan orangtuaku. Itu karena selama ini aku adalah anak tunggal. Jadi aku belum siap punya saudara. Dan aku tidak suka orangtuaku membagi kasih sayangnya pada anak lain selain aku. Aku tidak tahu ternyata selama ini kau juga berpikiran seperti itu. Tapi aku tidak pernah menganggapmu sebagai musuh dan sainganku. Memang sikapku ini kurang dewasa,” ucapku. Yoona masih tetapa menangis dan memandang tanah di bawahnya. Pandangannya seolah kosong.
“Maafkan aku. Aku menang sangat bodoh. Aku benr-benar merasa bersalah padamu. Maafkan aku jika selama ini aku bukanlah kakak yang baik. Tapi aku tidak akan memaksamu untuk memaafkan aku. Wajar jika kau marah padaku. Kau boleh memarahi aku sepuasnya. Bencilah aku!” aku terus-terusan meminta maaf.
“Aku tidak bisa membenci oppa. Aku sangat menyayangi oppa. Aku tidak ingin merasa kesepian. Tidak masalah jika sikap oppa padaku seperti itu. Walaupun oppa memperlakukan aku seperti itu, aku tetap menganggap oppa seperti kakakku sendiri. Aku juga tidak marah pada oppa. Lupakan semua ucapanku kemarin. Anggap saja itu seperti angin. Sekarang biarkan aku pergi. Kita kembali di mana kita belum saling kenal. Kembali ke kehidupan yang dulu,” kata Yoona. Dengan reflek aku memeluknya. Saat itu juga Yoona kembali menangis tersedu-sedu. Aku mengerti perasaannya. Ya Tuhan, apa yang telah aku lakukan? Aku telah menyakiti hati anak sebatang kara ini. Kau pantas menghukumku.
“Yoona-ah, jangan pergi. Aku mohon jangan pergi. Jika aku melarangmu untuk tidak pergi, apa kau masih akan tetap pergi? Jangan pergi, tetaplah di sini. Apa kau tega meninggalkan appa dan eomma?” aku melepaskannya dari pelukanku.
“Appa… eomma…” lirihnya.
“Aku janji akan menjadi kakak yang baik untukmu. Aku akan mengabulkan semua permintaanmu. Aku akan mengajakmu jalan-jalan pada hari libur. Aku akan membawamu ke manapun kau ingin pergi. Asal kau tetap tinggal di sini. Mari kita mulai kehidupan dari awal. Kita akan menjadi saudara yang bahagia,”
“Aku… tidak akan pergi,” kata Yoona. Aku tersenyum mendengar ucapannya.
“Tapi ada satu syarat,” katanya lagi. Air matanya mulai memudar, digantikan oleh senyum manisnya. Aku mengangkat alisku.
“Aku ingin belajar main drum dengan oppa,” katanya. Aku tertawa.
“Tenang saja Him Yoon Ah. Aku akan mengajarimu bermain drum,” aku mencubit hidungnya.
“Apa katamu? Him Yoon Ah? Oppa!” Yoona protes memukul lenganku.
“Karena kau sangat kuat. Buktinya kau mau bermain drum,” jawabku. Dia tertawa, dan aku pun juga ikut tertawa. Aku senang melihatnya ceria kembali. Tapi masih ada yang mengganjal di hatiku.
“Yoona, apakah kau benar mencintaiku?” tanyaku dengan hati-hati. Suasana menjadi hening.
“Jika iya, oppa akan marah padaku,” jawabnya.
“Tidak, aku tidak marah. Tapi aku minta maaf. Aku tidak bisa mencintaimu. Bukannya aku tidak menyukaimu. Aku hanya menganggapmu sebagai adik. Banyak hal yang terlarang di antara kita berdua. Kita tidak boleh saling mencintai. Tapi aku juga tidak melarangmu untuk mencintaiku. Tapi juga akan lebih baik jika kau berhenti mencintaiku. Kau cantik dan masih muda. Kau pantas mendapatkan yang lebih baik dariku. Jadi lebih baik kita menjadi saudara saja. Aku janji aku akan berubah,” kataku. Yoona mengangguk mengerti.
“Kau tidak marah kan?” tanyaku khawatir.
“Tidak. Kenapa aku harus marah? aku tidak memaksamu untuk membalas cintaku. Apa yang kau katakan benar. Kita lebih baik menjadi saudara saja,” ucap Yoona menirukan kata-kataku sambil tersenyum. Aku senang mendengarnya.
“Semoga oppa cepat menemukan wanita idaman oppa dan cepat menikah. Supaya aku punya kakak ipar dan menjadi temanku di rumah,” candanya.
“Yah! Kau kan yang ulang tahun. Aku dong yang harus mendoakanmu. Semoga kau cepat punya pacar dan supaya aku punya teman di rumah,” aku menirukan ucapannya. Dia tertawa.
“Ayo kita pulang. Appa dan eomma mungkin mencari kita,” ajakku. Yoona menurut.

♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥

7 tahun kemudian…
Mereka akhirnya hidup bahagia.
Yoona telah menikah dengan seorang pemuda bernama Kim Ki Bum, temannya waktu SMA. Siwon juga telah menikah dengan seorang gadis bernama Tiffany, teman SMA-nya dulu, mereka bertemu di Amerikia ketika Siwon berlibur di sana.

Itulah akhir dari kisah mereka. Cinta memang tak harus memiliki. Di balik musibah pasti ada jalan yang lebih baik yang telah diberika Tuhan.

++++++++++_THE_END_++++++++++

About these ads

37 thoughts on “[FF YOONWON ONESHOT] I Did Wrong

  1. Akhirnya nemu lg ff yoonwon,wlupun gak bersatu…setidknya mengobati kekecewaan q krn gak ad siwon di mubank kemaren…#lebaydeh…hehehe

    • takdir #plakk #dibakar yoonwonited
      itu ada sequelnya chingu.. yoona sama kibum, siwon sama tiffany..
      yg sifany aq post waktu ultahnya tiffany,, yg yoonbum entar aq post pas ultahnya kibum.
      ok chingu.. gomawo :)

  2. author,, aku boleh minta sesuatu nggak? toling dong author bikin ff yoonwon couple lagi. tapi mereka harus bersatu dan happy end. aku nggak ngelarang author buat sifany. tapi please thor buat yoonwon juga. karena aku susah bgt nyari ff yoowon. dimana2 adanya sifany.. please ya thor soalnya aku yoonwonitied. klo disini banyak ff yoonwon, aku akan rajin mampir ke blog ini.
    mianhae ya thor,, klo aku lancang

  3. Wahh udh seneng banget nemu ff yoonwon baru…
    Yahh aku yoonwonited, jadi agak kecewa sama endingnya -,-
    Tapi keren kok thor,,
    Buat yoonwon lagi ne ;)

  4. Aku kecewa thor..
    Ending nya begitu bgt..
    Harusnya khan YoonWon bersatu..
    Toh mereka juga bukan sodara kandung sama sekali..
    Akhh.. Author sukses buat aku sedih.. T0T

  5. Annyeonng min, aku reader bru nih, aku nyari ff YoonWon tp YoonWon nya g brsma nih, pdahal critanya keren nih,
    Waaah dsni readers nya jg bnyk dr YWI(YWK) jg nih…
    Min buat ff YoonWon bnyk2 yahhh^^
    Please~

    Gomawo^^~

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s